Alkisah, seorang pinguin kecil yang terlahir dengan segala keunikannya. Karenanyalah, ia menjadi berbeda dengan pinguin yang lain. Apabila pinguin yang lain mengungkapkan perasaannya melalui nyanyian, Mumble berkomunikasi dengan tarian, hentakan-hentakan pada kakinya. Karenanyalah, ia dijauhi oleh banyak pinguin, termasuk ayahnya. Karenanyalah, ia diharuskan berubah. Akan tetapi Mumble tetaplah Mumble. Apalah yang salah dengan ungkapan hati melalui hentakan kaki bukan melalui suara. Mumble tetaplah Mumble yang berhati tulus, walau ia disingkirkan oleh komunitasnya, ia tetap berjuang membela komunitasnya yang sedang menderita kelaparan karena ikan diambil serampangan oleh manusia. Justru dengan keunikannya, ia membuat para manusia sadar tentang keadaan alam yang timpang akibat perbuatan mereka dan ikan pun kembali berlimpah sehingga Mumble dan komunitasnya tidak harus kelaparan lagi.
Saya ingin sekali mengumumkan pada teman-teman untuk menonton film ini. Apalagi Steve Irwin ikut ambil bagian dalam sulih suara dan saya termasuk pengagumnya walau ia telah meninggal.
Alkisah seorang George Bailey merasa dirinya bukanlah apa-apa selain membawa penderitaan kepada orang sekitar. Hingga ia berharap ia tidak pernah dilahirkan. Karena ketidakhadirannya, tiada yang membantu orang miskin untuk mendapatkan tempat tinggal. Tanpanya, temannya hanyalah jiwa yang putus asa. Lalu apakah hanya karena Bailey miskin ia menjadi tidak berguna?
Coba tonton It's a Wonderful Life, karya sutradara kenamaan Frank Capra. Film ini penuh inspirasi.
Mumble mengajarkan saya untuk menerima diri kita apa adanya dan memanfaatkan kelebihan yang ada. Saya sempat iri melihat orang yang pintar, apalagi dalam bidang eksak, dan selalu berpikir alangkah beruntungnya mereka, selalu disanjung oleh banyak orang, anak impian setiap orang tua. Tetapi sekarang capek ya bila kita selalu iri dan iri. Kita kadang tidak sadar, bahwa Allah memberikan kelebihan atau bakat kepada seorang manusia disertai pula dengan tanggung jawab dalam memanfaatkan bakat itu. Begitu pula dengan Mumble. Ia diberikan bakat yang luar biasa tetapi disertai dengan tanggung jawab yang luar biasa pula. Sekilas kita boleh iri pada Mumble yang pada akhirnya menjadi legenda yang dikagumi tetapi bila kita tilik bagaimana perjuangannya, mungkin kita akan berpikir ulang untuk memilih menjadi Mumble.
Bailey mengajarkan saya terkadang kita telah mendapatkan yang terbaik tetapi kita buta bahwa yang kita dapatkan selama ini adalah yang terbaik. Saya ingat sebuah cerita lama. Adalah seorang tukang becak yang sedang tiduran di becaknya sambil menahan hawa panas yang mendera. Tatkala ia melihat sebuah mobil Mercy, ia berpikir alangkah enaknya menjadi bos yang duduk dalam mobil itu. Duduk di tempat yang empuk dan berhawa sejuk. Sementara sang bos berpikir alangkah enaknya jadi dirinya tanpa harus memikirkan hutang yang bertumpuk dan berbagai trik jegalan dari saingan bisnisnya.
Saya tertawa begitu mendengar cerita itu. Manusia itu lucu ya, dikasih begini ngeluh, dikasih begitu ngeluh. Toh ada cerita bijak yang mengajarkan saya pula. Adalah tiga orang yang selalu berharap. Pertama, berharap kekayaan, kedua berharap kepintaran, dan ketiga berharap kebijaksanaan. Kita tidak akan menikmati indahnya kekayaan dan kepintaran bila kita miskin dalam kebijaksanaan.
So, be MUMBLE, THE HAPPY FEET, yang selalu menerima dirinya dan seiring dengan itu, menjalankan tanggung jawab dari bakat yang ia miliki. See BAILEY, yang belajar untuk membuka mata hati bila kita ingin mendapatkan yang terbaik. Susah, pasti, tapi untunglah manusia diperintahkan untuk selalu belajar, dari kehidupan ini.
| |
|